









Pondok wisata Aki & Enin
jl. Curug cinulang km.5 desa Dampit Kec Cicalengka , Bandung
Menggali potensi wisata keluarga di kota Bandung, tepat untuk refreshing dengan temna mulih kadesa ]
Assalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Kebersihan Anak
Islam adalah agama kebersihan, di dalamnya terdapat syariat mandi dan wudhu, di dalamnya terdapat kewajiban bersuci dari najas yang identik dan kotoran, Nabi saw menyatakan bahwa bersuci merupakan setengah dari iman, dari sini dan dalam konteks keluarga maka memperhatikan kebersihan anak, kebersihan baju dan badannya adalah sesuatu yang dianjurkan, disyariatkan dan didorong di dalam agama.
Hal ini ditunjukkan oleh al-Qur-an dan as-Sunnah, Allah berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” ( Al-A’raaf: 31-32). Memakai pakaian yang indah setiap datang ke masjid merupakan perhatian terhadap kebersihannya. Allah juga berfirman, “Dan pakaianmu bersihkanlah.” (Al-Muddatstsir: 4)
Nabi bersabda:
إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ.
“Sesungguhnya Allah Mahaindah dan menyukai segala yang indah.” (HR. Muslim).
Memperhatikan kebersihan anak-anak merupakan salah satu tanggung jawab orang tua, namun patut disayangkan manakala ada sebagian orang tua, bahkan di antara mereka ada yang mengerti agama malah justru melalaikan tanggung jawab ini, maka Anda bisa melihatnya membiarkan anak-anaknya berpakaian kotor dan lusuh, wajah mereka penuh dengan debu dan kotoran, rambutnya acak-acakan dan berkutu, bahkan terkadang badannya dikelilingi lalat, ludah menetes dari mulut mereka dan ingus merembes dari hidung mereka.
Semua ini jelas bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasulullah saw yang selalu mendorong untuk menjaga kebersihan. Rasulullah saw membersihkan ingus dan kotoran dari Usamah bin Zaid.
At-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari hadits Ummul Mukminin ‘Aisyah dia berkata, “Nabi saw hendak membersihkan ingus Usamah, lalu ‘Aisyah berkata, ‘Tinggalkanlah, biarkanlah aku yang melakukannya!’ Rasul berkata, ‘Wahai ‘Aisyah! Cintailah ia karena sesungguhnya aku mencintainya.”
Di dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih lighairihi dari ‘Aisyah berkata,
عَثَرَ أُسَامَةُ بِعَتَبَةِ الْبَابِ فَشُجَّ فِيْ وَجْهِهِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: أَمِيطِي عَنْهُ اْلأَذَى! فَقَذَّرْتُهُ فَجَعَلَ يَمُصُّ عَنْهُ الدَّمَ وَيَمُجُّهُ عَنْ وَجْهِهِ
Usamah terjatuh di ambang pintu dan wajahnya terluka, lalu Rasulullah saw berkata, ‘Hilangkanlah kotoran yang ada di wajahnya!’ Lalu aku merasa jijik, maka beliau menghisap darah dan memuntahkannya dari wajahnya.
Demikian pula yang dilakukan oleh Fathimah, puteri Rasulullah saw, dia membersihkan anaknya dan memandikannya.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah berkata, “Pada suatu hari Rasulullah pergi, beliau tidak berbicara kepadaku dan aku pun tidak berbicara kepada beliau, sehingga beliau sampai di pasar Bani Qainuqa. Kemudian beliau duduk di serambi rumah Fathimah, beliau berkata, ‘Apakah di sana ada si kecil?’ Maka ibunya menahannya beberapa saat, aku menduga dia sedang memakaikan kalung untuknya atau memandikannya, tidak lama kemudian dia datang dengan cepat, sehingga Rasul memeluknya dan menciumnya, beliau berkata, ‘Ya Allah, cintailah dia dan cintailah orang yang mencintainya.”
Sudah saatnya para orang tua memperhatikan salah satu ajaran agama mereka yaitu kebersihan khusunya kebersihan anak-anak, dengan kebersihan anak-anak yang merupakan para penerus Islam di masa datang akan menjadi sehat dan kuat, mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah. Wallahu a'lam.
Anak Laki-Laki Atau Perempuan ?
Anda sedang menantikan sang buah hati? Apakah Anda berharap laki-laki atau perempuan? Jika yang Anda tunggu adalah anak pertama maka biasanya Anda akan berkata, “Sama sajalah, laki-laki atau perempuan.” Namun jika yang Anda nantikan adalah anak kedua, maka harapan Anda biasanya tergantung kepada anak pertama, jika anak pertama laki-laki maka Anda berharap sang adik adalah perempuan, sebaliknya sebaliknya. Atau mungkin Anda sudah mempunyai sepasang dan sedang menantikan anak ketiga? Biasanya dalam kondisi ini Anda pasrah, “Terserah yang memberi, diberi laki-laki syukur, diberi perempuan alhamdulillah.” Lain perkara jika seluruh anak Anda adalah laki-laki atau sebaliknya perempuan, Anda mempunyai tiga anak atau empat, semuanya laki-laki atau sebaliknya semuanya perempuan, maka dalam kondisi ini anak yang Anda harapkan adalah anak yang belum Anda miliki.
Apa pun, laki-laki atau perempuan, perkara pertama kita mesti ingat dan sadari adalah bahwa anak merupakan pemberian dan karunia dari Allah Ta'ala, dalam hal ini kita tidak memiliki hak campur tangan sama sekali, Anda itu diberi, Anda penerima, Anda bukan penentu, perkaranya terserah kepada pemberi, terkadang Dia memberi laki-laki, terkadang perempuan. “Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendakNya, dan dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki.” (Asy-Syura: 49-50).
Bisa jadi Anda termasuk yang Allah kehendaki untuk diberi anak perempuan saja, atau yang Allah kehendaki untuk diberi anak laki-laki saja, atau yang Allah kehendaki untuk diberi anak laki-laki dan perempuan. Semuanya adalah baik, daripada yang terakhir, dijadikan olehNya termasuk yang tidak diberi, berat bukan?
Perkara kedua, manusia berpandangan pendek sedangkan Allah adalah pemilik hikmah yang mendalam, ia diketahui oleh siapa yang mengetahui, bisa jadi Allah memberinya anak laki-laki karena di situlah kebaikan terkandung baginya, atau sebaliknya, Allah memberinya anak perempuan karena kemaslahatan tersimpan padanya, kita tidak tahu siapakah yang lebih dekat manfaatnya kepada kita, anak laki-lakikah atau anak perempuan? “Orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu.” (An-Nisa`: 11).
Pendeknya pandangan manusia, terkadang dia melihat sesuatu baik ternyata tidak baik, terkadang dia menyukai anak laki-laki ternyata dia tidak menghadirkan kebaikan kepada dirinya, atau sebaliknya. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.” (Al-Baqarah: 216).
Kalau Anda menyukai anak laki-laki, sangat berharap mendapatkannya, berupaya dan berusaha melakukan trik-trik untuk menghadirkannya, maka tidak masalah, semoga keinginan Anda terwujud, tetapi bagaimana jika tidak? Ternyata yang nongol tuh anak perempuan. Nah, di sini inilah persoalannya. Kalau Anda hilang kendali, lupa daratan, lepas kontrol maka bisa-bisa Anda menolak dan tidak menerima anak perempuan yang diberikan kepada Anda, kalau begini bahaya urusannya. Coba bayangkan seorang anak laki-laki, calon anak yang menyusahkan dan menyengsarakan bapak ibunya, anak tipe ini ada di dalam al-Quran, renungkan kemungkinan anak laki-laki Anda seperti anak ini. Penulis sih tidak berharap dan yakin Anda juga tidak berharap, tapi perlu diingat kemungkinan sesempit apa pun selalu terbuka. Inilah anak yang bakal menyusahkan bapak ibunya, “Dan adapun anak muda itu, maka kedua orang tuanya adalah orang yang beriman dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.” (Al-Kahfi: 80).
Mau? kalau anak Anda mendorong Anda kepada kesesatan dan kekufuran. Atau coba bayangkan bagaimana sedihnya Nabi Nuh alaihis salam ketika anak laki-lakinya ternyata memilih kekufuran dibanding keimanan, sebagai bapak bisa Anda bayangkan betapa malunya Nabi Nuh alaihis salam, dia yang siang malam mengajak kaumnya kepada Allah, mengajak mereka kepada tauhid dengan cara rahasia dan terang-terangan, ternyata anak laki-laki termasuk di barisan pada penentang dakwahnya dan lebih tragis lagi mati di atas kekufuran, dan gara-gara anak laki-lakinya ini Nuh alaihis salam ditegur oleh Allah Ta'ala.
Bacalah kisahnya dalam firman Allah Ta'ala ini, “Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’ Anaknya menjawab, ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah.’ Nuh berkata, ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah yang Maha penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Hud: 42-43).
Selanjutnya firman Allah Ta'ala,
“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku dan sesungguhnya janjiMu itulah yang benar dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya.’ Allah berfirman, ‘Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya perbuatannya adalah perbuatan yang tidak baik, sebab itu janganlah kamu memohon kepadaKu sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya. Sesungguhnya Aku memperingatkanmu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.’ Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari memohon kepadaMu sesuatu yang aku tiada mengetahuinya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi." (Hud: 45-47).
Anda tentu mengenal nabi-nabi, mereka adalah teladan. Ibrahim alaihis salam hanya diberi anak laki-laki, Ishaq dan Ismail, dalam usia yang tidak muda, tidak ada keterangan Ibrahim alahis salam mempunyai anak perempuan. Luth alaihis salam hanya diberi anak perempuan, maka dia berkata, "Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu.” (Hud: 78). Muhammad saw diberi anak laki-laki dan perempuan, namun yang hidup sampai dewasa hanyalah anak-anak perempuan. Maka dari itu jadilah orang yang ridha, rela, nrimo ing pandum (menerima jatah), inysa Allah di sanalah kebaikan itu berada. Semoga Anda meyakini demikian. (Izzudin Karimi)
Anak Perempuan, Siapa Takut?
Penulis percaya Anda tidak takut, karena bisa jadi Anda termasuk orang-orang yang berpandangan bahwa anak laki-laki dengan anak perempuan adalah sama, atau Anda termasuk orang-orang yang menerima paket Allah Ta'ala sebagai sebuah anugerah besar, atau Anda memang tidak diberi anak perempuan, namun jika Anda termasuk orang-orang yang berharap anak laki-laki, bisa jadi karena anak-anak Anda perempuan semuanya atau memang Anda pengagum anak laki-laki, sehingga Anda pun berharap anak yang akan hadir berikut adalah anak laki-laki, dalam batas tertentu dan dengan kadar tertentu, ada perasaan takut, ada kekhawatiran, anak yang lahir tidak seperti yang diharapkan, “Jangan-jangan janin dalam istri saya ini perempuan.” Demikian mungkin kata hati Anda.
Penulis juga percaya bahwa Anda tidak separah orang-orang Jahiliyah di mana Allah Ta'ala berfirman tentang mereka,
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An-Nahl: 59-60).
Atau kepercayaan penulis salah, tidak tertutup kemungkinan, karena terkadang dalam kondisi tertentu dan situasi khusus, sebagian ciri jahiliyah ini bisa bangkit kembali dari alam kuburnya. Apa pun semoga apa yang penulis catat berikut ini menenteramkan Anda manakala keinginan Anda tidak terkabul.
Penulis memperhatikan, ada dua alasan, ini menurut perhatian penulis bukan sebagai pembatasan atau harga mati, mengapa orang khawatir dengan anak perempuan. Pertama, karena dia tidak membawa nasab, dia memutus nasab, sebab nasab di bawa oleh anak laki-laki, anak laki-laki penyampung nasab. Kedua, menjaga, membesarkan dan mendidiknya lebih repot dan lebih susah, lebih memerlukan kehati-hatian, maklum anak perempuan, begitu kata orang, kalau anak laki-laki bisa diumbar, menjadi joko umbaran, tetapi tidak dengan anak perempuan.
Penulis akan memberikan ulasan tentang hal ini, secara umum dan secara khusus. Secara umum, penulis katakan bahwa:
Jika Anda diberi anak perempuan maka orang lain tidak diberi sama sekali. Jika Anda diberi anak perempuan yang sehat dan lengkap, maka orang lain diberi anak yang cacat atau sakit-sakitan yang mengharuskan bapak ibunya wira-wiri, mondar-mandir mengetuk pintu rumah sakit ini dan itu, dokter ini dan itu. Bahkan nabiyullah Sulaiman alahis salam yang dianugerahi oleh Allah sebuah kerajaan yang tidak akan pernah dimiliki oleh siapa pun sesudahnya, hanya diberi setengah bayi.
Nabi saw bersabda, “Sulaiman bin Dawud berkata, ‘Sungguh, aku akan menggilir sembilan puluh isteriku pada malam ini, masing-masing akan melahirkan satu orang pejuang yang akan berjuang di jalan Allah.’ Lalu sahabatnya berkata, ‘Ucapkan insya Allah!’ tetapi beliau tidak mengucapkannya, akhirnya dia menggauli semua isterinya itu, dan tidak satu orang pun dari mereka hamil ke-cuali satu isteri saja yang melahirkan anak dengan wujud se-tengah manusia. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya dia mengucapkan, ‘Insya Allah,’ niscaya mereka semua akan (melahirkan) para pejuang yang berjuang di jalan Allah.” Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah.
Ini penjelasan secara umum, adapun penjelasannya secara khusus maka bisa dilanjut, semoga dengan ini Anda tidak lagi sempit dada, bersedih, menyesal dan marah hanya karena istri Anda melahirkan anak perempuan, semoga anak perempuan Anda membawa kebaikan dunia dan akhirat. Ucapkan segala puji bagi Allah, syukurilah nikmatNya, anugerahNya dan karuniaNya.
Ini adalah penjelasan khusus setelah sebelumnya penulis telah memberikan penjelasan umum, penjelasan khusus ini berupa ulasan terkait dengan alasan mengapa sebagian orang tidak atau kurang menyukai anak perempuan. Penulis telah mengira-ngira bahwa dalam hal ini ada dua alasan, pertama karena anak perempuan tidak membawa nasab, kedua karena membesarkan anak perempuan lebih sulit.
Sebelum penulis menguraikan dua alasan di atas, penulis ingin menyuguhkan sebuah kisah yang mempunyai keterkaitan dengan masalah kita ini. Kisah ini disebutkan dalam buku Bingkisan Istimewa Bagi Muslimah yang diterbitkan oleh Darul Haq Jakarta.
Diceritakan ada seorang pemimpin bagi kaumnya yang dipanggil Abu Hamzah, dia menikahi seorang wanita dengan harapan mendapatkan anak laki-laki, akan tetapi anak yang lahir ternyata tidak seperti yang diharapkan, anaknya lahir perempuan, Abu Hamzah yang masih memegang kebiasaan sebagian bangsa Arab pada saat itu, kecewa berat terhadap anaknya, dia langsung meninggalkan rumah karena kekecewaannya yang sedemikian berat, dia tidak pulang.
Pada suatu hari dia melewati rumahnya, dia melihat istrinya bercanda dengan anak perempuannya, istrinya mengucapkan beberapa bait syair,
Apa yang menjadikan Abu Hamzah tidak datang kepada kami Dia selalu berada di rumah yang ada di samping kami Dia marah karena kami tidak melahirkan anak laki-laki Padahal kami tidak memiliki kehendak sedikit pun dalam hal ini Kami hanya mengambil apa yang diberikan kepada kami Dan kami ibarat bumi bagi siapa yang menanaminya
Kami tumbuhkan apa yang telah ditanam pada kami.
Begitu Abu Hamzah mendengar bait-bait ungkapan istrinya tersebut, dia langsung terpanggil oleh fitrah kasih sayang seorang suami sekaligus ayah, dia pulang dan mencium istri dan anaknya.
Pelajarannya, sekali pun seseorang itu tidak menyukai anaknya yang lahir karena jenis kelaminnya yang tidak sesuai dengan harapannya, namun dia tidak kuasa melawan seruan fitrah kasih sayang seorang bapak kepada anak yang bercokol demikian kuat dalam hati sanubarinya, sesaat mungkin dia kecewa namun tidak untuk seterusnya, kecuali jika fitrah yang bersangkutan telah mati.
Sekarang kita kembali kepada persoalan, menjawab dua alasan mengapa orang kurang respek dengan lahirnya anak perempuan. Pertama, karena anak perempuan tidak menyambung nasab. Kedua, membesarkannya lebih sulit.
Penulis katakan, apa ruginya seseorang jika namanya tidak dibawa oleh anaknya, bukankah seseorang itu bukan dengan namanya, bukan dengan nasabnya, akan tetapi dengan apa yang dilakukannya? Jika perbuatan seseorang itu lamban maka nasab tidak mempercepat. Apa artinya nasab dari Bani Hasyim jika perbuatannya adalah perbuatan Abu Lahab? Nabi saw sendiri tidak mempunyai anak yang membawa namanya, karena tiga anak laki-laki beliau wafat sewaktu masih kecil, anak beliau yang hidup sampai dewasa dan menikah adalah anak-anak perempuan, maka tidak seorang pun yang memiliki nasab “Fulan bin Muhammad bin Abdullah.” Benar Nabi saw mempunyai al-Hasan dan al-Husain, tetapi nasab keduanya adalah bin Ali bin Abu Thalib, bukan bin Muhammad bin Abdullah, sekali pun begitu beliau tidak risau, tidak kecewa dan tidak gunda gulana.
Di sisi lain, Anda boleh berbangga manakala nama Anda dibawa oleh anak atau cucu Anda, namun perlu Anda ingat bahwa hal itu kalau perbuatan anak atau cucu Anda tersebut adalah perbuatan mulia yang memang membanggakan, coba pikir jika sebaliknya, perbuatannya adalah perbuatan durhaka dan menyengsarakan, melakukan tindak tidak terpuji dan menjadi kriminil, sana-sini menyumpahinya dengan sumpah serapah, orang-orang mengutuknya dan mendoakannya tidak baik. Bagaimana? Anda masih berharap nama Anda dibawa oleh anak atau cucu yang demikian? Tidak dan seratus tidak, kalau bisa mungkin Anda berharap tidak melahirkannya ke bumi ini atau Anda berharap dia segera mati.
Yang kedua, alasan bahwa membesarkan anak perempuan lebih sulit. Penulis katakan, hal ini relatif, bukan merupakan harga mati yang tidak mungkin ditawar lagi, penulis mengenal beberapa orang tua yang justru mengeluhkan sulitnya membesarkan anak laki-laki, bahkan beberapa di antaranya harus menghadapi persoalan rumit dan cukup berat karena ulah anak laki-lakinya, penulis berkata demikian tidak berarti menafikan atau menutup mata terhadap kenyataan bahwa membesarkan anak perempuan juga tidak mudah, namun penulis tidak sependapat kalau dipastikan bahwa membesarkan anak perempuan lebih sulit, karena faktanya memang tidak demikian.
Alhasil, anak laki atau perempuan sama saja, yang penting adalah bagaimana membesarkan dan mendidiknya sehingga menjadi anak yang baik, berguna bagi agamanya. Amin.
Apa Namamu
Semoga bapak ibumu memberimu nama yang baik dari nama-nama kaum muslimin, nama-nama orang-orang shalih lagi mulia dari kalangan para nabi, para rasul dan sahabat-sahabat mereka, nama-nama yang mengandung makna lurus, memikul arti luhur, karena hal itu sudah menjadi hakmu atas bapak ibumu, di samping itu nama merupakan sebuah optimisme, merupakan sebuah harapan, bahkan nama yang baik merupakan indikasi awal sebuah kebaikan.
Anda boleh menyangkal dengan berkata, “Apalah arti sebuah nama?” Karena nama tidak secara otomatis membuat baik pemiliknya, berapa banyak orang yang bernama baik namun berkata dan bertindak tidak baik, berapa banyak orang yang hanya sekedar membawa nama sementara makna dari nama itu tidak terlihat dalam kehidupan, seseorang bernama Mahmud (yang dipuji), namun perbuatannya tidak terpuji, seseorang bernama Hasan (baik) namun tingkah polanya buruk.
Jika Anda menyangkal demikian maka hal itu tidak seratus persen keliru, karena memang perkaranya demikian, namun ia tidak bisa digeneralisasikan, tidak bisa digebyah-uyah, karena hal itu tidak terjadi pada semua orang akan tetapi pada sebagian orang saja, buktinya ada orang yang bernama Hasan, tingkahnya bagus, bahkan penampilannya juga bagus. Benar, sekedar nama tidak mengotomatiskan membuat pemiliknya baik, mulia dan berbudi, namun minimal, paling tidak, nama yang baik merupakan langkah awal yang baik dan jangan lupa banyak kebaikan terwujud dengan langkah awal yang baik. Apalagi jika Anda memperhatikan apa yang saya tulis berikut.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Said bin al-Musayyib dari bapaknya bahwa kakeknya datang kepada Nabi saw, beliau bertanya, “Apa namamu?” Dia menjawab, “Hazn.” –Hazn artinya susah dan sulit- Maka Nabi saw bersabda, “Kamu Sahal.” –Sahal artinya mudah- Maka dia berkata, “Aku tidak merubah nama yang diberikan bapakku kepadaku.”
Adakah akibat dari penolakan Hazn terhadap perubahan nama dari Rasulullah saw ini? Ternyata ada sebagaimana yang dikatakan oleh Said bin al-Musayyib sendiri sang cucu, “Kesulitan senantiasa menimpa kami.” Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari 10/575, “Ad-Dawudi berkata, ‘Maksud Said adalah kesulitan dalam akhlak mereka.’ Selainnya berkata, ‘Said mengisyaratkan kepada kekerasan yang masih tersisa pada akhlak mereka, ahli nasab menyebutkan bahwa pada anak-anaknya terdapat keburukan akhlak yang sudah terkenal yang hampir tidak lepas dari mereka.”
Ini karena Hazn bersikukuh dengan namanya, akibatnya nama yang berarti sulit itu pun membawa kesulitan di kemudian hari. Coba seandainya Hazn menerima nama baru, Sahal yang berarti mudah, bisa jadi keadaannya akan menjadi musah sesuai dengan Sahal. Ternyata ada keterkaitan antara nama dengan pemiliknya.
Perhatikan lagi sabda Nabi saw,
“Semoga Allah memberi keselamatan kepada (kabilah) Aslam, semoga Allah mengampuni (kabilah) Ghifar dan (kabilah) Ushayyah telah durhaka kepada Allah dan rasulNya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Rasulullah saw menghubungkan nama Aslam yang berarti berserah diri, masuk ke dalam keselamatan, masuk ke dalam Islam dengan keselamatan, keselamatan memang sesuai dengan Aslam. Sedangkan Ghifar dihubungkan oleh Rasulullah saw dengan ghufran, ampunan, karena nama Ghifar memang sesuai dengan kandungannya. Lain halnya dengan Ushayyah yang berarti kedurhakaan dan kebengalan, Nabi saw menghubungkan nama ini dengan maknanya dan perkaranya memang demikian.
Nabi saw juga pernah bertafa`ul, merasa optimis dengan sebuah nama, pada perjanjian Hudaibiyah orang-orang musyrikin mengutus Suhail bin Amru sebagai juru runding, ketika Suhail datang Nabi saw bersabda, “Perkara kalian akan menjadi mudah.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.
Di sini Nabi saw memprediksi kemudahan akan diraih oleh kaum muslimin ketika yang datang kepada mereka adalah seseorang yang membawa nama yang menunjukkan makna kemudahan dan yang terjadi adalah seperti yang dinyatakan oleh Nabi saw, pasca perjanjian ini segala urusan kaum muslimin berjalan lancar, sehingga perjanjian tersebut disebut dengan al-Fathu, kemenangan.
Ada satu hal lagi dari Amirul Mukmin Umar bin al-Khatthab bahwa dia berkata kepada seorang laki-laki, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “Jamrah.” Umar bertanya, “Anak siapa?” Dia menjawab, “Bin Syihab.” Umar bertanya, “Dari marga apa?” Dia menjawab, “Dari al-Haraqah.” Umar bertanya, “Dari kabilah apa?” Dia menjawab, “Dari Bani Dhiram.” Umar bertanya, “Di mana tempat tinggalmu?” Dia menjawab, “Harrah.” Umar bertanya, “Di sebelah mana?” Dia menjawab, “Dzatu Lazha.” Maka Umar berkata, “Selamatkan keluargamu, mereka terbakar.” Yang terjadi seperti yang dikatakan oleh Umar.
Jamrah berarti bara api, Syihab berarti bongkahan api, al-Haraqah berarti kebakaran, Dhiram berarti api yang berkobar, Harrah berarti panas dan Dzatu Lazha berarti api yang menyala. Semua nama tersebut berkaitan dengan api, maka Umar memprediksi apa yang terjadi dari nama dan ternyata demikian.
Ini berarti bahwa “Apalah arti sebuah nama.” tidak selamanya benar, karena bagaimana pun nama dalam batas-batas tertentu dan dalam kadar-kadar tertentu memiliki keterkaitan dengan makna yang akan berpengaruh kepada pemiliknya, nama yang baik bisa menjadi awal yang baik, sedangkan nama sebaliknya –saya tidak berharap- bisa menjadi awal sebaliknya. Nanti saya akan kembali, insya Allah. (Izzudin Karimi)